Selasa, 05 Februari 2008

Peluit panjang

Sepakbola Liga Inggris dan sepakbola Liga Indonesia sama-sama ramai. Yang lebih ramai kalau wasit meniup "peluit panjang" dan pertandingan sepakbla itu usai. Pihak yang menang bersorak-sorak kegirangan.

Peluit di mulut wasit itu sebenarnya tidak panjang. Kalau tidak percaya, periksa saja ke Stadion Bung Karno. Benda itu sebenarnya mirip benar dengan kepala bebek yang paruhnya dimasukkan ke mulut wasit.

Benda itu disebut peluit entah sejak kapan. Dalam bahasa Indonesia sehari-hari orang biasa menyebut sempritan. Tetapi, sempritan tidak lazim digunakan dalam pertandingan resmi. Orang Timor menyebut "floit, atau "lefrik". Wasit di lapangan sepakbola tidak menggunakan klakson sebab nanti dikira mobil polisi.

Gara-gara sempritan atau peluit, pemain bola bisa kena prikik di lapangan tetapi di jalan raya pengendara motor dan sopir bisa kena prikik juga. Prikik di jalan raya adalah kebiasaan polisi menjatuhkan tilang.

Meskipun begitu, kata "prikik" itu belum juga masuk KBBI, padahal kata itu lebih tua dari "memble" dan "kece". Dua kata yang terakhir sudah lama masuk kamus besar meski sekarang ini jarang digunakan orang.

Prikik adalah bahasa percakapan yang diserap mentah-mentah dari kata Inggris "free kick". Artinya tendangan bebas yang diberikan kepada lawan setelah wasit meniup peluit.

Ketika pertandingan akan usai wasit biasanya meniup peluit panjang. Yang jadi masalah, yang panjang itu sebenarnya apa? Peluit, tiupan, ataukah bunyi peluit. Atau, mungkin bibir wasit itu yang panjang.

Peluit itu mungkin juga berasal dari kata Ingris "flute" yang berarti suling atau seruling. Alat musik tradisional ini memang bentuknya bulat panjang karena terbuat dari bambu. Tetapi, mana ada wasit bawa-bawa suling ke lapangan sepakbola.

"Peluit" mungkin sekali berasal dari bahasa Belanda "fluit" lalu terserap begitu saja menjadi "peluit" karena orang Indonesia tidak bisa mengucapkan fonem "f". Hampir seluruh suku bangsa di negeri ini tidak dapat mengucapkan "ef" karena bahasa ibunya pun tidak mengenal bunyi itu.

Orang Indonesia sebenarnya cuma bisa menyebut bunyi "ep", konon, karena bibir orang Indonesia itu lebih panjang daripada hidung. Bunyi "ef" itu memang datang dari bahasa Inggris (pada umumnya) dan bahasa Arab.

Orang Eropa dan Arab memiliki hidung panjang, sehingga mulut mereka terlihat masuk ke dalam, dan itu mungkin sebabnya mereka gampang menyebut "ef". Yang berbeda, orang Eropa bisa bilang "ep" sedangkan orang Arab kalau sebut "ep" bisa muncrat ludahnya lantaran bunyi "pe" tidak dikenal dalam bahasa Arab.

Demikian juga orang Inggris bisa bilang "cheat" tetapi orang Arab jangan harap bisa menyebut "cekcok", sebab ca ci cu ce dan co tidak dikenal juga dalam bahasa Arab.

Di kantor saya, ada orang dari suku Sunda bernama Saifudin, tetapi dia sendiri tidak bisa melafalkan namanya sendiri. Ketika orang lain menuliskan namanya dengan huruf "p" dia protes, "Nama saya harus ditulis dengan huruf ep. "Hehehe...memble."

"Memble" itu memang pas buat orang Indonesia, karena bibirnya kepanjangan sampai terlipat ke bawah. Mirip-miriplah artinya dengan kata "dower" (tebal dan menonjol ke depan). Misalnya, Tukul itu memble, dan Titi Dwi Jayati itu dower.

Bahasa Jawa dan Sunda mungkin paling banyak kosa katanya, tetapi tidak memiliki fonem "f". Di Indonesia Timur ada beberapa suku bangsa yang dapat mengucapkan bunyi "ef" yaitu suku Timor yang berbahasa Tetun, Flores bagian tengah sampai timur, Lembata, orang Rote, orang Kisar di Maluku Tenggara yang berbahasa Tetun, dan orang Papua.

Orang Rote di Nusa Tenggara Timur, misalnya, dapat mengucapkan "Mai fali, Mama hala ita fali" (Pulanglah, Mama panggil kita agar kembali).

Bahasa Indonesia membuat penuturnya cerdas, dan bisa menyesuaikan bibir mereka dengan bahasa orang Eropa. Kalau dulu, orang Indonesia hanya dapat menyebut "petua(h)" sekarang ini kata "fatwa" sudah biasa.

Bibir orang Indonesia kini semakin demokratis juga lantaran bukan cuma bisa mengecup dan mencium. Cipok-cipokan juga bisa! Malah lebih hebat dari bibir orang Amerika.

Yang agak susah dimengerti adalah wasit "meniup peluit panjang". Waktu pertandingan sepakbola usai, wasit meniup peluit, dan keluarlah bunyi nyaring: priiiit, priiit, priiit!!!"

Jadi, ketika wasit meniup peluit panjang sebenarnya bukan peluit itu yang panjang. Yang panjang itu ternyata "prit".

I. Umbu Rey

1 komentar:

Muhammad Hidayat mengatakan...

Di wilayah Indonesia timur, cukup banyak masyarakatnya yang bisa mengucapkan 'f', karena native tongue mereka memang begitu. Jadi, TIDAK BENAR bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia tidak bisa mengucapkan huruf 'f'.