Selasa, 11 Maret 2008

The Loser

Kata Inggris yang satu ini --"the loser"-- tidak akrab dalam bahasa Indonesia karena tidak pernah disebut-sebut. Yang sangat kerap kita ucapkan (kalau lagi sok nginggris) adalah kata "the winner".

"The winner" kita artikan dalam bahasa Indonesia adalah "orang yang menang" dan supaya gampang kita sebut saja PEMENANG. Sebaliknya "the loser" dalam kamus John Echols dan Hassan Shadily diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai "orang yang kalah". Tetapi kata itu tidak pernah digunakan sebagai lawan kata "the winner".

"Orang yang kalah" tidak dapat seenaknya kita sebut PENGALAH sebab tidak berterima. Orang tidak lazim menyebut kata itu dan lantaran itu pula maka KBBI edisi ketiga pun tidak mencatat kata PENGALAH. Jikalau PEMENANG kita artikan sebagai "orang yang memenangi/memenangkan", dapatkah PENGALAH itu berarti "orang yang mengalahi/mengalahkan".

Kalau demikian halnya, maka PEMENANG itu sama kedudukannya (posisinya) dengan PENGALAH. Sebab, orang yang mengalahkan (pengalah) dan orang yang memenangi atau memenangi-/kan (pemenang) adalah pihak yang sama-sama juara.

Tetapi, kita tidak lazim berkata "Muhammad Ali adalah PENGALAH" ketika petinju legendaris berjuluk si Mulut Besar itu berhasil mengalahkan George Foreman dalam suatu pertandingan tinju. Tetapi, kalau saya berhasil mengalahkan Djoni Herfan maka lazimnya kita berkata bahwa "saya keluar sebagai PEMENANG".

Jadi "the loser" itu apa? Jikalau kita sebut PENGALAH tentu tidaklah tepat sebab pengalah adalah orang atau pihak yang mengalahkan dan sama kedudukannya dengan pemenang sedangkan "the loser" adalah orang yang dikalahkan.

Teman sekantor saya (di mejasunting olahrga) berkata bahwa "the loser" itu adalah "pecundang" dari kata dasar "cundang". Tetapi saya mengatakan istilah ini pun tidak tepat sebab dalam bahasa Indonesia "pecundang" itu adalah orang yang menipu atau penipu atau orang yang menghasut. Penipu dan penghasut tidak pernah masuk golongan orang yang kalah (the loser).

KBBI Edisi ketiga halaman 224 mengatakan "cundang, mencundangi" artinya mengalahkan (seperti dalam sabung ayam). Tetapi, "pecundang" dalam pengertian "orang yang dikalahkan" (the loser) tidak tercatat dalam kamus besar itu.

Orang yang dikalahkan (biasanya tanpa diduga) disebut KECUNDANG. Ini kata tidak pernah digunakan oleh wartawan olaharga atau diucapkan oleh para pengamat sepakbola. Mungkin karena mereka tidak tahu, lantaran KECUNDANG itu memang tidak pernah dipopulerkan. Atau, jangan-jangan kata ini disama-artikan saja dengan kata KEJEDOT, atau KEBENTUR pintu.

Jikalau kita enggan menggunakan kata KECUNDANG sebagai padanan kata "the loser" dalam arti orang atau pihak yang kalah, apa salahnya kita menggunakan kata PEKALAH.

Kita mengenal kata PENATAR yaitu orang yang menatar dan PETATAR adalah orang yang ditatar (lihat KBBI Edisi ketiga halaman 1149). Karena itu, bolehlah PEKALAH kita artikan sebagai orang yang dikalahkan. Daripada kita sok "nginggris" dan menjiplak mentah-mentah kata "loser" itu. Betul toh?

Umbu Rey

Tidak ada komentar: