Rabu, 12 Maret 2008

Halia

Ini apa? Halia. Siapa yang kenal halia? Saya kira tidak banyak. Susahnya memang kalau penutur bahasa sudah dikuasai mayoritas, maka nyaris semua kata pun datang dari yang mayoritas itu. Susahnya lagi, kalau yang minoritas itu tak kreatif melahirkan produk maka tenggelamlah kata-kata miliknya ditelan yang mayoritas.

Contohnya ya ini, halia. Tak ada yang tahu nama itu di tanah Jawa ini. Semua orang pasti bilang "jahe" gara-gara jamu buatan Jawa, STMJ. Orang Jawa tak mengenal "halia" maka itu jamu tolak angin itu tak pernah disebut Susu Telor Madu Halia atau STMH.

Halia itu nama asli Melayu. Orang atau suku Melayu sebenarnya sudah memberikan andil sangat besar bagi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia lewat bahasa. Jumlah mereka pun belum lagi terbilang juta ketika bahasa Melayu diresmikan menjadi Bahasa Indonesia pada Oktober tahun 1928.

Anehnya, KBBI tak menerangkan apa itu halia menurut ucapan Melayu. Dia cuma bilang jahe. Pada lema "jahe" barulah kamus besar itu menjelaskan artinya, yakni "tumbuhan berakar tunggang (umbinya pedas rasanya, dipakai sebagai aromatik, bumbu dapur, atau obat). Mengapa tidak pada lema "halia" penjelasan itu diberikan? Padahal menurut urutan abjad, huruf "h" itu lebih dahulu dari "j".

Akibatnya, orang Jawa tak mengenal halia dan orang luar Jawa pun tak mengenal jahe. Di negeri saya, orang sama sekali tak mengenal jahe. Saya pernah mendatangi hampir semua pelosok Nusantara, dan saya dapati orang-orang Indonesia luar Jawa ternyata tidak mengenal jahe.

Ketika suatu saat saya ke Bukit Tinggi di Sumatera Barat, saya pergi ke Pasar Bukit mencari jahe untuk mengobati tenggorokan saya karena sering serak berdahak kena cuaca dingin.

Di sebuah kedai, saya bertanya kepada seorang ibu pedagang.
"Ibu, saya mau beli jahe," begitu saya bertanya.
Ibu pedagang itu melongo tak mengerti, tetapi dia balik bertanya, "Apa itu jahe?"
Ketika saya menunjuk benda yang akan saya beli, ibu pedagang itu lalu menjawab, "O, itu bukan jahe. Itu halia namanya!"
Ha, giliran saya yang melongo. Rupanya ibu itu tak mengenal jahe.

Halia dikenal di luar pula Jawa, tetapi tidak populer lantaran cuma dibikin sambal atau bumbu masak. Di tanah Jawa orang saban hari mengucapkan "jahe" sebab jutaan orang minum jamu yang dibuat dari tumbuhan itu setiap hari. Jadi tidak sekadar bumbu masak.

Seringkali saya merenung dan berkata dalam hati, "Halia...halia, nasibmu, Nak. Apes, tak sebagus Jahe. Padahal sama-sama pedas."

Umbu Rey

3 komentar:

Murtala Bin Muhammad Daud mengatakan...

Di kampung saya (aceh) sebutan untuk jahe adalah halia, sama persis seperti yang saudara tulis, di tempat saya orang hanya mengenal halia dan bukan jahe....!! Kalau cik datang aceh cakap halia ye.... hehehe

Bertanya mengatakan...

Intinya halia sama jahe sama ajh gak?

Bertanya mengatakan...

Intinya halia sama jahe sama gak