Jumat, 13 Juni 2008

PRAMUDI

Pramudi itu sesungguhnya adalah sopir bus kota. Ini istilah mungkin sekali diciptakan karena kreativitas pejabat karena persoalan gengsi. Para pengemudi bus kota di Jakara lazim disebut sopir, sebab kerjanya di belakang kemudi. Dulu, yang menyetir bus kota identik dengan kedekilan, lusuh karena mereka memakai pakaian seadanya. Bau keringat pula.

Pada tahun 1970-an awak bus kota pernah ditertibkan oleh Pemda DKI supaya kelihatan rapi. Sopir bus dan kernetnya harus pakai seragam dan sepatu. Kebiasaan buruk rupanya tidak dapat diubah dengan peraturan. Ibarat anjing, biar dirantai dengan rantai emas sekalipun, jika lepas ke tempat sampah juga dia kembali.

Sopir bus kota di Jakarta rupanya begitu juga. Peraturan tata tertib kemudian ditinggalkan, sebab yang penting setoran cukup dan penumpang sampai tujuan. Sudah. Kebiasaan lama kembali lagi, dan sepatu ditanggalkan, kaus oblong dipakai. Sekarang ini terminal di mana pun pasti bau pesing karena sopir dan kernet sepakat pipis sembarangan di kolong bus.

Dulu, perempuan juga banyak yang jadi kernet bus kota, tugasnya cuma menagih ongkos, sebagian di antaranya kedapatan sedang hamil. Maka itu dia disebut kondektur. Tidak ada perempuan yang bertugas menjadi sopir.

Pemda DKI kini mengubah wajah Jakarta, dan meninggikan citra penumpang dan awak bus. Pengangkutan penumpang kota menggunakan bus khusus yang disebut TransJakarta. Jalurnya pun khusus. Ketika perusahaan pengakutan ini menggunakan tenaga perempuan untuk pelayanan di jalur itu, maka sang pengemudi perempuan itu diberi gelar PRAMUDI, lebih populer dari pengemudi lelaki yang disebut PRAMUDA. Sesungguhnya mereka itu sopir juga, sebab kerjanya duduk di belakang kemudi (menyetir bus).

Bus yang dikemudikannya sebenarnya sama juga dengan yang lain, tetapi ada kesan mewah karena pakai pengatur suhu udara atau pendingin ruang yang lazim disebut AC. Kalau penumpang hendak turun, kondektur tidak perlu lagi berteriak-teriak, soalnya sudah otomatis pakai pengeras suara. Ongkos bus tidak ditagih di dalam bus seperti umumnya berlaku di bus kota yang lain. Karena berada di jalur khusus, maka para penumpang juga tidak dapat naik dan turun sembarangan. Untuk sementara, penumpang nyaman dan aman dari aksi pencopetan.

Pramudi dan pramuda tidak lagi sekadar sopir kejar setoran. Mereka digaji layaknya pegawai negeri, atau pegawai kantoran di perusahaan swasta. Seragamnya pun jas lengkap seperti layaknya pejabat tinggi negara.

Ini mungkin sebabnya dia disebut PRAMUDI dan PRAMUDA. Ini istilah mulai populer di jalan raya Jakarta walaupun asal-usul kata itu bikin orang pada bingung. Kalau tugasnya menyetir bus atau memegang setir bus mengapa tak disebut sopir saja? Hehehe, mosok sudah keren begini disebut sopir juga. Gengsi, dong?!

Ketika saya menyunting berita kota, reporter pembuat naskah berita itu terpaksa saya panggil untuk menerangkan arti kata Pramudi. Dia bilang "Itu istilah khusus busway untuk sopir perempuan!" Sopir yang laki-laki jarang terdengar disebut pramuda. Tetapi, reporter itu pun tidak tahu asal usul kata itu. Pokoknya, begitulah namanya.

Saya mencoba mereka-reka asal kata PRAMUDI itu dengan mengambil bandingan dengan kata lain yang juga menggunakan kata awal PRAMU. Mungkin sekali kata itu terdiri atas Pramu dan kemuDi yang dianalogikan dengan "pramugari" di pesawat terbang.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ed 3 hal 892, menyebut "pramu" adalah bentuk terikat yang diberi pengertian "orang yang bekerja di bidang jasa". Contohnya, pramuwisma, pramuniaga, dan pramuria.

Selanjutnya,

Pramubarang adalah porter
Pramubakti adalah orang yang membantu dl pelaksanaan tugas sosial
Pramubayi adalah orang yang pekerjaannya merawat bayi
Pramujasa adalah orang yang bekerja di bidang pelayanan jasa
Pramugara adalah karyawan perusahaan pengangkutan umum
Pramugari adalah karyawati perusahaan pengangkutan umum

Karena itu,

PRAMUDI adalah sopir (perempuan) yang bekerja di bidang jasa mengemudDI bus kota TransJakarta. Barangkali begitu, tetapi mungkin juga saya salah. Lha, PRAMUDA? Ya, diada-adakan saja begitu biar keren. Soalnya ada pemuda, maka ada pula pemudi.

Umbu Rey

Tidak ada komentar: