Senin, 11 Mei 2009

Memeras keringat

Sampai saat ini saya agak risau dengan istilah "memeras keringat". Kata guru saya di kampung, sebenarnya ini istilah adalah kiasan saja untuk maksud berkerja keras. Sama juga halnya dengan istilah bekerja "membanting tulang".

Soal "membanting tulang" itu menurut pikiran saya masuk akal, sebab ketika kita bekerja keras maka seakan-akan tulang kita dibanting-bantingkan keras-keras. Ini bisa terlihat pada gerak pekerja kasar seperti petani yang mencangkul, buruh-buruh pelabuhan atau baco yang mengangkat beban berat di punggungnya atau pekerjaan lain lebih banyak menggunakan tenaga ketimbang otak.

Demikian juga halnya dengan istilah "bertekuk lutut" yang diartikan sebagai menyerah kalah. Pada zaman dulu, orang atau pihak yang kalah biasanya dipaksa untuk menyembah kepada pemenang dengan menekukkan lututnya atau berlutut di hadapan sang pemenang.

Kata "memeras" sama atau bersinomin dengan "memerah". Cuma, kata "memerah" hanya lazim digunakan untuk sapi atau lembu. Karena itu ada istilah "sapi perahan" yakni sapi yang dipelihara untuk diambil susunya. Orang yang diperbudak atau kerja tanpa imbalan biasanya kita sebut "sapi perahan" juga. Pada zaman penjajahan, Belanda menjadikan bansa di Nusantara ini sebagai sapi perahan saja layaknya.

Proses pengambilan air susu sapi dilakukan dengan memerah buah atau puting susu sapi itu. Pada zaman sekarang hal yang sama juga dilakukan ibu-ibu muda yang bekerja kantoran dan terpaksa meninggalkan bayinya di rumah. Dengan sebuah alat khusus payudaranya diperas dan air susunya dimasukkan ke dalam botol yang sudah dilengkapi dengan dot.

Tetapi, istilah "memeras keringat" itu terasa amat ganjil bagi saya. Bukankah keringat itu zat cair yang keluar dari dalam tubuh karena kita kepanasan atau setelah banyak bergerak? Tanpa memeras sesuatu pun keingat itu pastilah keluar sendiri.

Saya belum pernah mendengar orang memeras badan atau memeras tubuh supaya keringat itu keluar. "Memeras" adalah kata kiasan dari pekerjaan orang yang suka menipu atau mengambil hasil kerja orang berupa uang, seakan-akan dia "memeras" orang (korbannya) agar dapat penghasilan lebih banyak.

Ada sebuah lirik lagu keroncong yang dinyanyikan oleh Mus Muliadi dan menurut saya terasa lebih masuk akal:

Kini hasratmu menyala
Tinggi membakar jiwamu
Kini dirimu dalam api perjuangan

Oh...diliputi kabut pancaroba
Kini dirimu menjelang gerbang bahagia

Melalui samudera ujian
Untuk nusa dan bangsa
Kini DIRIMU KAUPERAS SEKUAT TENAGAMU

Dalam frasa "dirimu kauperas sekuat tenagamu" memberikan kesan kerja keras untuk mencapai tujuan. Kerja keras apa pun dengan mengeluarkan tenaga, tentu saja badan akan mengeluarkan keringat.

Keringat juga akan mengucur deras kalau kita kepanasan. Keringat itu kita seka atau kita hapus dengan sapu tangan. Kalau begitu, mestinya kita sebut "memeras sapu tangan". Mengapa justru keringat yang diperas?

I. Umbu Rey

1 komentar:

Fernandus Carolino mengatakan...

Terimakasih untuk lirik lagu keroncong Mus Mulyadi Api Perjuangan. Susah juga mencarinya. Silahkan kunjungan balik ke Info Terbaru di KompasPost.