Rabu, 24 Maret 2010

Oknum, Markus, dan Petrus

Sudah banyak tulisan mengenai kata “oknum” tetapi tidak jelas benar asal muasalnya. Mendengar bunyinya, kata “oknum” itu tak pasti Arab. Inggris pun bukan. Susahnya, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sampai edisi yang keempat tak pula menjelaskan dari mana kata itu dipungut.

Kalau ditilik dari maknanya yang pertama, maka “oknum” itu pastilah datang dari bahasa Latin sebab dia masuk ke dalam kosa-kata Indonesia lewat Gereja Katolik. Dalam Gereja Protestan “oknum” itu tidak pernah disebut-sebut dan karena itu nyaris tak terdengar.

Oknum sebenarnya adalah gambaran personafikasi Tuhan dalam diri Bapa, Putra, dan Roh Kudus, yang menurut ajaran Gereja merupakan tugas ketuhanan yakni “mencipta, berfirman, dan memelihara”. Ketiga tugas itulah yang lalu diwujudkan dalam pengertian Trinitas atau Tiga Allah yang Sah, atau Tiga Yang Esa. Artinya Tuhan itu tetaplah satu tetapi datang ke dunia dengan tiga tugas untuk penyelamatan dunia.

Oknum dan Trinitas adalah sebutan atas tafsiran para ahli agama saja sebab kata-kata tersebut sama sekali tidak tertera dalam kitab suci Injil Perjanjian Baru baik dalam versi terjemahan lama maupun dalam terjemahan baru.

Tafsir pemuka agama Kristen yang begini ini mirip-mirip juga dengan istilah Trimurti dalam agama Hindu (mohon koreksi kalau saya keliru) yang mewujudkan tugas Tuhan dalam sifat sosok dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Tetapi dalam agama Hindu istilah “oknum” itu tidak ada.

Apa pun maksudnya, sebutan "oknum" itu pada mulanya adalah suci dan berlaku hanya di dalam Gereja. “Oknum” itu pun awalnya –dan sampai kini-- tak terpengaruh oleh imbuhan bahasa Indonesia. Jadi, tidak ada sublema “mengoknumkan, atau dioknumkan, atau pengoknuman”.

Belakangan kata itu lalu disinonimkan dengan kata “pribadi” yang berasal dari bahasa Sanskerta, tetapi dirasa kurang tepat sebab kita mengenal kata “kepribadian” tetapi kita tidak pernah mendengar orang mengucapkan “keoknuman”. Dalam KUBI (Kamus Umum Bahaasa Indonesia) ada tetapi tidak diberi penjelasan.

Entah kapan awalnya, dan siapa yang iseng menggunakan kata itu pada mulanya saya tidak tahu. Mungkin sekali kata “oknum” itu dipakai untuk melindungi orang yang diduga tak bersalah dari instansi tempat dia bekerja ketika terjadi delik kejahatan. Jadi, kalau ada orang dalam suatu instansi pemerintah atau ABRI disangka melakukan penyimpangan atau korupsi maka orang itu berhak menyandang “oknum” untuk menerapkan asas “praduga tak bersalah”.

Pada zaman pemerintahan Pontius Pilatus 2000 tahun lalu, salah satu oknum Tuhan yakni Yesus Kristus, menurut riwayat Injil Perjanjian Baru memang pernah menjadi terdakwa atas sangkaan jahat dan kemudian disalibkan. Tuduhan palsu yang diajukan oleh para ahli Taurat Yahudi kemudian melahirkan peristiwa Paskah ketika Oknum itu bangkit dari kematian. Tetapi, dalam riwayat ketika Yesus disesah dan dera, Injil sama sekali tidak menggunakan istilah “oknum”.

Sejak zaman Orde Baru –seingat saya,-- “oknum” menjadi sangat populer berbarengan dengan semarak dan semangat korupsi hampir di semua instansi pemerintah di seluruh Indonesia. Siapa pun yang sudah disebut oknum hampir pasti terlibat pidana makan uang negara atau melakukan kejahatan yang dapat dihukum. Hanya orang yang melanggar peraturan (dalam buku ketiga KUHP) bebas dari dari sebutan oknum. Sebab dia hanya melakukan pidana ringan atau “tipiring” yang hukumannya paling-paling cuma denda tilang.

Tetapi, oknum Trinitas yang sekarang ini tak ada lagi hubungannya dengan penyiksaan dakwaan Pontius Pilatus. Karena itu, kalau bisa berbicara maka saya pastikan si Oknum akan bilang, “Pak Polisi, saya ini kan nggak ikut mencuri dan korupsi, kenapa dituduh dan menjadi tersangka? Semua orang tahu, saya ini cuma mengurus Gereja setiap hari, mengapa pula nama saya dicatut. Yang mencatut nama saya kok Anda tidak menindak?”

Akhir-lahir ini muncul pula “markus”. Dia bukan kata Indonesia meskipun banyak orang Indonesia penganut Kristen menggunakannya sebagai nama baptisan. Maklumlah, Markus sudah sangat dikenal sebagai nama salah satu dari empat penulis Injil Pernjajian Baru.

Markus belakangan ini muncul bersamaan dengan merebaknya kasus Bank Century --yang diduga melibatkan Wapres dan Menteri Keuangan dalam kasus dana talangan yang dianggap menyimpang. Markus itu hanyalah akronim dari dua kata gabungan “makelar kasus”. Tetapi karena tata bahasa Indonesia tidak mengatur cara membuat akronim, maka seenaknya perut oranglah kata itu disingkat-singkat.

Presiden SBY --yang agaknya tak enak rasa menyebut markus-- mengimbau semua pihak dalam urusan hukum agar tidak lagi menggunakan istilah “markus” sebagai akronim “makelar kasus” karena nama itu dianggap merupakan nama besar dalam kitab suci Injil. Ada yang mencoba membuat akronimm baru “calkus” atau “lokus” tetapi tampaknya tak berterima.

“Markus” sudah bercokol kuat dalam konsensus umum dan menjadi kelaziman. Soalnya, yang punya nama Markus Horizon semisal penjaga gawang sepakbola nasional Indonesia malah cuek-cuek bebek saja, tak peduli. Mungkin dia bilang,” Akh, saya kan kiper PSSI. Apa hubungannya dengan kasus Bank Century?”

Zaman dulu –awal tahun tahun 1980—waktu Pak Jenderal Beny Moerdani masih memimpin ABRI, ada program untuk bikin aman Ibu Kota Jakarta yang ketika itu ingar-bingar karena macam-macam kejahatan sehingga sangat meresahkan warga. Tiba-tiba terjadi semacam serangan yang entah siapa pelakunya dan saban hari pula surat kabar memberitakan kematian orang bertato yang tak dikenal pula.

Karena penembak dan yang ditembak mati tak pernah diketahui identitasnya maka wartawan pun mempopulerkan istilah “petrus” dari akronim “penembakan misterius”. Jakarta pun tiba-tiba menjadi aman tenteram dari ancaman penggarongan dan penodongan, dan hampir semua orang bertato ketakutan meskipun bukan penjahat.

Petrus itu pun sebenarnya nama suci dalam kitab Injil. Dia salah satu murid Yesus yang kurang teguh iman, dan gurunya sendiri disangkalinya untuk cari selamat. Meski istilah itu merebak, semua orang penganut Kristen plus Pak Presiden Soeharto adem-adem saja, tidak peduli, dan bahkan tak mengeluarkan komentar sedikit pun. Yang penting Jakarta aman.

Bertahun-tahun kemudian nasib serupa menimpa pula kata yang lain bernama “rekayasa”. Konon, menurut penciptanya Prof. Dr. Anton M.Moeliono, kata itu lahir pada masa ketika dia menjadi kepala Pusat Bahasa awal tahun 1980.

Suatu ketika orang Istana Merdeka bertanya apa padanan kata bahasa Inggris “engineering”. Sepuluh menit kemudian terciptalah kata “rekayasa” itu. Maksudnya seperti tercantum dalam KBBI adalah penerapan kaidah-kaidah ilmu dalam pelayanaan (seperti perancangan, pembuatan konstruksi, serta pengoperasian kerangka, peralatan dan sistem yang ekonomis dan efisien).

Lagi-lagi setelah zaman semakin kotor oleh tindakan koruptor, kata “rekayasa” itu menyebar dan makin populer seperti artis dangdut tahun 1990-an Inul Daratista naik daun eh, naik panggung.

Sebenarnya, “rekayasa” itu lebih anggun daripada Inul, tetapi sayangnya malah terjerumus pula ke dalam kekotoran tangan koruptor di negeri ini. Maka bergeserlah arti kata “rekayasa” itu maksud yang sebenarnya. Orang lalu menulis di jalan-jalan ketika berunjuk rasa dan menyebut-nyebut “rekayasa” sebagai “rencana jahat atau persengkongkolan untuk menguntungkan diri sendiri atau korupsi kasus dana talangan Bank Century.

Di negeri lain seperti di Jawa atau di suku-suku yang lain, kalau kita mengucapkan sebuah kata secara keliru walaupun cuma beda-beda tipis saja, langsung ditegur supaya diperbaiki. Sebab salah ucap itu berarti penghinaan. Cobalah kata “kentut” kehilangan bunyi “t” di belakangnya, pengertiannya beda lagi dan semakin jelek.

Yang heran, orang Jawa atau Batak atau apa pun sukunya, bahkan enggan memperbaiki salah kata dan salah arti dalam bahasa persatuan Indonesia, meskipun dia orang Indonesia juga. Giliran orang Malaysia bilang “Indon”, beranglah orang Indonesia padahal kata Indon itu cuma singkatan nama juga untuk menghemat ruang dan waktu, dan rasanya tidak berdampak negatif sama sekali bagi mayoritas bangsa ini.

Meski begitu, nasib “rekayasa” masih lebih beruntung sebab paling-paling cuma diucapkan dengan makna yang salah kaprah di jalan raya. Yang saya kasihan si Oknum itu. Dulu dia cuma mengurus Gereja, tetapi sekarang sudah menjadi penghuni bui semua.

Maka itu kalau anak Anda lahir laki-laki ke bumi tahun ini jangan sekali-kali kasih dia nama Oknum. Bisa celaka nanti. Kalaupun Anda suka nama Oknum, pelesetkan sedikit supaya jangan kedengaran seperti orang jahat. Misalnya, kasih saja nama Roknuman atau kalau perempuan Roknumin. Ada Oknumnya juga sih, tetapi kan lebih enak didengar.

Paling pas, kasih saja nama Rekayasa, lalu panggil nama kecilnya Yasa atau Yoso. Tetapi Anda itu tetap Pak Rekayasa sebab Anda itu bapaknya yang bertanggung jawab. Lha, kan Anda yang merekayasa sampai itu anak lahir ke bumi.

Umbu Rey

Tidak ada komentar: