Kamis, 28 Agustus 2008

Sekuriti vs Sekuritas

Dulu ada usul ketika bincang-bincang dalam Forum Bahasa Media Massa agar setiap kata serapan dari bahasa Inggris yang berakhir dengan "ity" hendaknya menjadi "itas" dalam bahasa Indionesia.

Ini usul mencuat karena tidak semua kata Inggris yang diserap ke dalam bahasa Inggris berbunyi "itas" dalam bahasa Indonesia. Padahal, hampir semua kata dari Inggris itu pastilah berbunyi "itas" kalau sudah diucapkan atau ditulis dalam bahasa Indonesia. Contoh: credibility --> kredibilitas, identity --> identitas, priority --> prioritas, quality --> kualitas.

Kata "kuallitas" itu dulunya tidak dikenal, dan orang lazim menyebut "kualiteit" yang diserap dari bahasa Belanda. Tetapi, karena kita hendak melupakan penjajahan Belanda maka kata itu pun lenyap ditelan waktu. KBBI pun tak mau lagi mencatat kata 'kualiteit" itu.

Kata-kata dari bahasa Portugis pun sebenarnya memperkaya kosa kata bahasa Indonesia, tetapi meskipun dikait-kaitkan dengan penjajahan kata-kata dari bahasa Portugis masih tetap juga kita gunakan saban hari.

Setakat ini orang tidak lagi sadar atau tidak mengetahui lagi bahwa semua benda yang kita pakai di badan mulai dari sepatu, celana, sampai kemeja, adalah kata-kata yang diambil dari bahasa Portugis.

Orang Indonesia sesungguhnya tidak mengenal "celana". Untuk menutup (barang) kemaluan maka yang kita pakai adalah "cawat". Cawat itu bukan celana karena hanya merupakan lembaran kain atau kulit kayu yang dililitkan di paha dan selangkangan atau menutupi pinggul perempuan.

Dalam bahasa Indonesia sebenarnya sudah ada kata "mutu" tetapi kata itu jarang sekali dipakai karena orang lebih suka memakai kata asing supaya disangka pintar atau cerdas. Begitu juga orang lebih suka pakai kata "qanun" dari bahasa Arab daripada istlah "perda" (peraturan daerah) sebab ganjarannya adalah surga. Maklum, kata-kata dari bahasa Arab sudah dianggap suci kalau berhubungan dengan agama, dan karena itu tidak boleh diubah.

Di Kantor Berita Antara, para wartawan bisa berkelahi kalau "sholat" atau "shalat" diganti dengan "salat" (tanpa fonem "h"). Padahal bahasa Arab tidak ditulis dengan huruf Latin. Saya pikir orang Arab juga bebas menulis menurut kebiasaan dalam bahasanya kalau mereka menyebut "encok" atau "cekcok" , sebab bunyi ca ci cu ce co itu tidak dikenal dalam bahasa Arab.

Entah kenapa, "celebrity" itu kok tetap bertahan menjadi "selebriti", dan "commodity" juga tetap saja orang bilang "komoditi". Kadang-kadang mengganti kata "selebriti" menjadi "selebritas" dan "komoditi" menjadi "komoditas" adalah pekerjaan sangat berat bagi saya. Soalnya, hari ini diubah besok muncul lagi aslinya. Begitu terus tiap hari sampai saya hampir bosan.

Nah, yang mau saya bicarakan ini malah bikin saya pusing. "Sekuriti" itu mau saya ubah menjadi "sekuritas" susah. Soalnya "iti" dan "itas" pada kasus kata sekuriti itu berbeda pengertiannya dalam bahasa Indonesia. Ketika "security" diserap menjadi "sekuritas" maka pengertiannya adalah surat berharga, dan ketika kita menulis atau menyebut "sekuriti" maka yang dimaksudkan adalah keamanan.

Dalam bahasa Inggris "security" itu adalah surat berharga dan sekaligus juga berarti keamanan, bergantung pada konteks pembicaraan. Mungkin karena itu, orang enggan menyebut "sekuritas" dalam pengertian keamanan. Di mana-mana kalau kita hendak masuk perkantoran besar atau gedung besar, maka di depan gerbang pasti akan tertulis: "Para tamu harap lapor SEKURITI". Tak mungkinlah di situ ditulis "Para tamu harap lapor SEKUTRITAS.

Nah, ini yang bikin saya pusing tadi. Mosok, tamu melaporkan surat berharga (sekuritas) atau para tamu disuruh melaporkan keamanan (sekuriti). Ganjil betul!

Umbu Rey

Tidak ada komentar: