Senin, 08 September 2008

Idulfitri adalah hari H

Menurut kalender resmi tahun Masehi, hari Idulfitri tahun ini jatuh pada hari Rabu 1 Oktober 2008. Akh, nggak benar itu! Yang benar, Idulfitri tahun 2008 akan jatuh pada hari H. Kalau Anda tidak percaya, tunggulah nanti sampai waktunya tiba.

Para wartawan dan para pejabat instansi di bidang keagamaan dan pejabat di lembaga yang terkait dengan urusan Iduliftri mulai dua minggu ke depan akan dengan lantang mengatakan Idulfitri itu adalah hari H. Padahal, dalam kalender nasional nama hari yang kita kenal adalah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Mingu. Cuma ada tujuh hari, dan tidak ada itu yang namanya hari H.

Entah mengapa disebut hari H, saya tidak paham benar. Setelah tanya sana tanya sini, saya mendapat jawaban bahwa hari H itu ada lantaran orang atau pejabat dan wartawan suka
latah. Konon, hari H itu muncul sebagai terjemahan D-Day dalam bahasa Inggris.

Arti huruf D dalam D-Day itu tidak ada yang pasti. Kamus Wikipedia mengatakan D-Day dapat juga berarti Day of Days. Istilah ini semula hanya digunakan di kalangan militer saja.

Mungkin itu sebabnya D-Day lalu diterjemahkan menjadi Hari H. Cuma, istilah militer itu lalu dipakai untuk hari keagamaan, jadi ganjil juga rasanya.

Kebetulan sekali Idullfitri tahun ini akan jatuh pada 1 Oktober (jika ditetapkan demikian) bersamaan dengan peristiwa kudeta berdarah tahun 1965 yang dilakukan oleh PKI pimpinan Aidit. Tanggal 1 Oktober 1965 itu adalah D-Day penculikan tujuh jenderal oleh PKI, dan karena itu disebut Gestok atau Gerakan Satu Oktober. Tetapi, pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto menyebut D-Day PKI terjadi pada 30 September dan karena itu disebut G-30 S/PKI atau Gerakan 30 September

Maka pada tanggal 30 September 2008 (satu ahri sebelum D-Day umat Islam akan menyerukan takbir dan tahmid. Tetapi itu dilakukan untuk merayakan sebagai hari kemenangan setelah 30 hari berpuasa menuruti perintah agama. Bukan untuk memuji Pak Harto dan Pancasila yang telah menumpas PKI.

Ada sebagian orang yang mengatakan D- adalah singkatan dari kata (Inggris) "Decision". Jadi, D-Day adalah hari keputusan atau hari yang ditetapkan. Kalau demikian, huruf H dalam hari H itu singkatan dari kata apa? Ya, sudahlah, biarkanlah begitu.

Yang menjadi masalah kemudian adalah, apakah hari H itu cuma sehari, ataukah dua hari karena Idulfitri ditetapkan jatuh pada tanggal 1 dan 2 Oktoberr 2008. Tahun yang lalu dalam milis ini pernah juga disinggung secara singkat perkara hari H itu lantaran penggunaannya terserah pada yang menyebutnya. Jadi, mana suka sajalah. Yang bingung orang yang baca.

Kantor Berita Antara akan cenderung mengatakan hari H itu adalah tanggal 1 dan 2 Oktober. Jadi, H-1 (baca: Ha min satu) adalah "satu hari sebelum" tanggal 1 Oktober, dan H+1 (baca: Ha plus satu) adalah "satu hari setelah" tanggal 2 Oktober.

Mengapa begitu, karena tidak ada ketentuan yang menetapkan bahwa hari H itu cuma sehari.
Boleh dua hari dan boleh juga tiga hari. Nah, yang perlu dipertanyakan, hari Idulfitri itu
menurut ketentuan agama ada berapa harikah?

Jika Idulfitri itu jatuh pada hari Rabu 1 Oktober (tahun Masehi) maka hari dan tanggal itulah yang disebut hari H, dan karena itu Kamis 2 Oktober merupakan masa libur tambahan atau H+1.

Agaknya ada salah pengertian mengenai hari H yang merupakan hari yang ditetapkan dan hari H yang merupakan masa Lebaran.

Rekan-rekan di media massa khususnya yang tergabung dalam FBMM (Forum Bahasa Media Massa) mesti menetapkan hari H itu hari apa.

Umbu Rey

Kamis, 04 September 2008

Tampak tidak terlihat

Saya tidak tahu persis apakah ini gejala penyimpangan atau memang perkembangan bahasa Indonesia. Hampir setiap saat saya amati koran-koran menulis kata "tampak" secara tidak tepat makna. Ini cuma pendapat saya dan boleh dibantah.

Beberapa tahun yang lalu ketika mantan Presiden RI Pak Harto masih hidup, kegiatannya selalu saja disorot wartawan. Pada suatu saat setelah bulan Ramadan diadakanlah sembahyang Ied di Masjid At-Tien di Taman Mini Indonesia Indah untuk menyambut Idulfitri. Masjid itu, konon, didirikan oleh Pak Harto. Ribuan orang memadati masjid itu.

Kantor Berita Antara juga meliput kegitan itu, dan wartawannya tentu saja melaporkan peristiwa itu dari sudut pandangnya. Apa yang dilihatnya di situ dilaporkannya semua secara terperinci, dan berhamburanlah kata "tampak" dalam laporannya itu.

Salah satu kalimatnya berbunyi "Ribuan umat muslim memadati Masjid At-Tien di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk melakukan sembahyang Ied, tetapi mantan Presiden Sooharto tampak tidak terlihat".

Terus-terang saya bingung setengah mati, bagaimana mungkin seseorang yang tidak dapat dilihat tampak oleh wartawan Kantor Berita Antara. Kata "tampak" agaknya digunakan sebagai kebiasaan, dan mungkin merupakan pemanis kata atau pelengkap tanpa makna. Mungkin itu sebabnya para wartawan suka menggunakan kata "tampak" itu.

Dalam KBBI kata "tampak" hanya memiliki makna yang berhubungan dengan apa yang dilihat mata. Tampak artinya (1) dapat dilihat, kelihatan, dan (2) memperlihatkan diri atau muncul. Dari kata "tampak" turun kata tampaknya, tampak-tampak, menampak, menampakkan, tertampak, dan penampakan, yang kesemuanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat oleh mata.

Kalau kata "tampak" dipakai bersamaan dengan kata "terlihat" mungkin masih dapat diterima akal sebab kata "tampak" dalam kasus ini hanya menegaskan apa yang dilihat wartawan. Bandingkan dengan "tampak ada". Tetapi dalam ragam jurnalistik kata "tampak" dalam konteks ini dianggap mubazir sebab yang terlihat itu pastilah tampak dan yang ada itu pun sudah pasti tampak.

Jika kita menggunakan "tampaknya ada", maka frasa itu merupakan pernyataan atau penafsiran sesuatu yang tidak pasti. Contohnya, Pak Harto tampaknya tidak akan hadir di Masjid itu. Tetapi kalau Pak Harto "tampak tidak hadir" dalam acara itu, maka kata "tampak" itu tidak masuk akal, lantaran tak akan mungkinlah mata melihat sesuatu yang tidak hadir.

Anehnya, Harian KOMPAS edisi Jumat 29/8/2008 menurunkan berita pada halaman 9 mengenai kemenangan Anwar Ibrahim yang kemabali ke parlemen setelah menang dalam pemilu sela di Malaysia.

Pada halaman itu tertulis: Pada saat pengambilan sumpah Anwar, Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi, Wakil PM Nadjib Razak, serta sebagian anggota kabinet tampak tidak hadir di gedung parlemen. Jadi, yang tak hadir pun tampak oleh wartawan. Ganjil betul.

Kata "tampak" dalam tulisan di KOMPAS itu tidak bisa diganti dengan "tampaknya" sebab orang (pejabat tinggi) yang disebutkan dalam koran itu memang sudah pasti tidak hadir dalam acara sumpah jabatan itu sampai acara itu usai.

Kata "tampaknya" yang saya maksudkan itu lebih menunjuk pada arti ramalan atau perkiraan tentang sesuatu yang akan terjadi atau tidak terjadi. KOMPAS itu beda dari Antara. Koran itu mempunyai tenggat waktu lebih lama daripada kantor berita. Artinya, wartawan koran baru akan menulis beritanya ketika acara itu usai tuntas.

Kantor berita Antara bekerja dengan tenggat setiap saat, hampir mirip dengan radio yang melaporkan pandangan mata langsung dari tempat kejadian. Ketika acara itu belum usai beberapa peristiwa atau kejadian dalam acara itu sudah harus disiarkan pada saat itu juga.

Karena itu, ketika acara sembahyang Ied itu belum usai (masih berlangsung) , masih ada kemungkinan Pak Harto akan hadir dalam acara itu. Mungkin pada pertengahan acara atau mungkin pada akhir acara itu. Pada saat yang demikian itu, wartawan Antara seharusnya menggunakan kata "tampaknya" karena ada kemungkinan seperti yang saya sebutkan di atas.

Jika wartawan Antara cenderung memperkirakan Pak Harto tidak akan hadir, maka dia seharusnya berkata Pak Harto tampaknya tidak akan hadir dalam acara itu (artinya ada kemugkinan Pak Harto hadir).

Tetapi, kalau Pak Harto diketahuinya tidak hadir, maka pastilah Pak Harto tidak akan kelihatan di tempat itu. Lantas, mengapa wartawan menggunakan kata "tampak tidak kelihatan"? Bukankah orang yang tidak hadir di situ memang tidak tampak atau tidak kelihatan?

Logika wartawan acap kali membuat kita pusing juga. Kata 'tampak' dalam frasa itu sebenarnya tidak bermasalah jikalau di situ tak tercantum kata 'tidak'. Jikalau kita menyebut 'tampak hadir' maka nalar kita tetaplah jalan sebab yang hadir pastilah tampak di acara itu. Sama seperti kita mengatakan 'tidak hadir' maka nalar kita pun jalan.

Jikalau kata 'tampak' itu dihubungkan dengan 'tidak hadir' maka nalar kita seakan-akan sudah dijungkir-balikkan. Tampak itu adalah sama dengan 'kelihatan' (lihat KBBI edisi ketiga) dan orang yang 'tidak hadir' itu pastilah juga tidak kelihatan sebab dia tidak ada di tempat acara itu.

"Pak Harto tampak tidak terlihat". Kok, bisa-bisanya itu wartawan melihat yang tidak ada!

Umbu Rey

Kamis, 28 Agustus 2008

Amandemen?

Menurut saya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga tidak terlalu bijak menyerap kata "amendment" dari bahasa Inggris. Kamus besar itu mencatat kata "amandemen" pada halaman 35 tetapi tanda panah dan menganjurkan kepada para pengguna bahasa Indonesia untuk menggunakan kata "amendemen".

Lema "amendemen" itulah yang diberi arti, yakni (1)usul perubahaan undang-undang yang dibicarakan dalam Dewan Perwakilan Rakyat dan sebagainya, dan (2) penambahan pada bagian yang sudah ada.

Mengapa KBBI tidak secara tegas saja menerjemahkan kata "amendment" ke dalam bahasa Indonesia? Kita menyerap sebuah kata dari bahasa asing karena pertimbangan kata asing itu tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, cara penyerapan kata itu pun tidak terlalu jelas patokannya, apakah kita mengikuti apa yang tertulis dalam bahasa aslinya ataukah melalui bunyi kata yang terdengar di telinga kita. Mungkin dua cara ini dipakai secara bersamaan karena tidak semua bahasa menuliskan kata-katanya dalam huruf Latin, misalnya bahasa Arab dan Cina.

Saya lebih tertarik dengan cara orang Malaysia menyerap kata asing. Pada umumnya dalam bahasa Malaysia, yang saya tahu, semua kata asing diserap melalui proses pendegaran, lalu ditulis sesuai dengan apa yang didengarnya itu. Misalnya, television menjadi televisyen.

Dalam kasus "amendment" kita seharusnya tegas menerjemahkan saja kata itu karena sudah ada padanannya. Mengapa kita tidak mengatakan "PENGUBAHAN" UUD 45 atau "PERBAIKAN" UUD 45 saja daripada kita harus berpura-pura menjadi Inggris supaya dikira cerdas, lalu dengan sikap yang keinggris-inggrisan kita mengatakan "amandemen".

"Amendment" berasal dari kata Inggris "amend" yang berarti mengubah (change) atau membuat menjadi lebih baik atau memperbaiki (repair). Mungkin sekali kita terlalu terbiasa mencari kata "amendment" itu dalam kamus John M. Echols dan Hassan Shadily, dan karena itu pula kita terpengaruh dengan cara kamus itu menerjemahkan atau menyerap kata itu.

Akibatnya, setiap hari di koran-koran kita akan membaca kata "amandemen" dan kata "merubah" UUD 45 seperti yang tertulis dalam kamus Inggris Indonesia itu. Kebiasaan yang sudah mendarah daging itu akhirnya dianggap benar saja walaupun sudah berulang-ulang diperbaiki.

Di Kantor Berita Antara, kerja saya setiap hari adalah mengubah huruf "a" menjadi "e" pada kata "amandemen" itu. Kadang-kadang saya harus menerjemahkan saja kata Inggris itu menjadi "mengubah" UUD 45 atau "pengubahan" UUD 45 atau "perbaikan" undang-undang. Sampai bosan saya mengganti "a" degan "e" tetapi tetapi tidak pernah digubris.

Apa lacur, agaknya bangsa ini (baca: wartawan) lebih suka berlindung atau melindungi dirinya di balik perkataan kamus. "Kan, di kamus begitu tulisannya!" demikian pada umumnya mereka berkilah.

Akhirnya, kata "amandemen" itu lalu dianggap "sah-sah" saja karena begitulah adanya. Maka tebersit pula pelesetan kata "amandemen" itu dalam arti "demen" mencari "aman" atau suka mencari aman saja supaya tidak kelihatan begonya.

"Akh Umbu, biar 'aman', kan banyak yang 'demen' (suka)," kata mereka, maka kekallah hidupnya amandemen sampai sekarang.

Senyampang KBBI masih dalam proses perbaikan sebelum terbit edisi keempat, melalui milis ini saya mengimbau Pusat Bahasa, sudilah kiranya kata "amendment" itu Engkau terjemahkan saja ke dalam bahasa Indonesia. Atau hapus saja kata itu dari dalam kamus.

Mudah-mudahan saya tidak keliru. Jadi mohon maaf.

Umbu Rey

Sekuriti vs Sekuritas

Dulu ada usul ketika bincang-bincang dalam Forum Bahasa Media Massa agar setiap kata serapan dari bahasa Inggris yang berakhir dengan "ity" hendaknya menjadi "itas" dalam bahasa Indionesia.

Ini usul mencuat karena tidak semua kata Inggris yang diserap ke dalam bahasa Inggris berbunyi "itas" dalam bahasa Indonesia. Padahal, hampir semua kata dari Inggris itu pastilah berbunyi "itas" kalau sudah diucapkan atau ditulis dalam bahasa Indonesia. Contoh: credibility --> kredibilitas, identity --> identitas, priority --> prioritas, quality --> kualitas.

Kata "kuallitas" itu dulunya tidak dikenal, dan orang lazim menyebut "kualiteit" yang diserap dari bahasa Belanda. Tetapi, karena kita hendak melupakan penjajahan Belanda maka kata itu pun lenyap ditelan waktu. KBBI pun tak mau lagi mencatat kata 'kualiteit" itu.

Kata-kata dari bahasa Portugis pun sebenarnya memperkaya kosa kata bahasa Indonesia, tetapi meskipun dikait-kaitkan dengan penjajahan kata-kata dari bahasa Portugis masih tetap juga kita gunakan saban hari.

Setakat ini orang tidak lagi sadar atau tidak mengetahui lagi bahwa semua benda yang kita pakai di badan mulai dari sepatu, celana, sampai kemeja, adalah kata-kata yang diambil dari bahasa Portugis.

Orang Indonesia sesungguhnya tidak mengenal "celana". Untuk menutup (barang) kemaluan maka yang kita pakai adalah "cawat". Cawat itu bukan celana karena hanya merupakan lembaran kain atau kulit kayu yang dililitkan di paha dan selangkangan atau menutupi pinggul perempuan.

Dalam bahasa Indonesia sebenarnya sudah ada kata "mutu" tetapi kata itu jarang sekali dipakai karena orang lebih suka memakai kata asing supaya disangka pintar atau cerdas. Begitu juga orang lebih suka pakai kata "qanun" dari bahasa Arab daripada istlah "perda" (peraturan daerah) sebab ganjarannya adalah surga. Maklum, kata-kata dari bahasa Arab sudah dianggap suci kalau berhubungan dengan agama, dan karena itu tidak boleh diubah.

Di Kantor Berita Antara, para wartawan bisa berkelahi kalau "sholat" atau "shalat" diganti dengan "salat" (tanpa fonem "h"). Padahal bahasa Arab tidak ditulis dengan huruf Latin. Saya pikir orang Arab juga bebas menulis menurut kebiasaan dalam bahasanya kalau mereka menyebut "encok" atau "cekcok" , sebab bunyi ca ci cu ce co itu tidak dikenal dalam bahasa Arab.

Entah kenapa, "celebrity" itu kok tetap bertahan menjadi "selebriti", dan "commodity" juga tetap saja orang bilang "komoditi". Kadang-kadang mengganti kata "selebriti" menjadi "selebritas" dan "komoditi" menjadi "komoditas" adalah pekerjaan sangat berat bagi saya. Soalnya, hari ini diubah besok muncul lagi aslinya. Begitu terus tiap hari sampai saya hampir bosan.

Nah, yang mau saya bicarakan ini malah bikin saya pusing. "Sekuriti" itu mau saya ubah menjadi "sekuritas" susah. Soalnya "iti" dan "itas" pada kasus kata sekuriti itu berbeda pengertiannya dalam bahasa Indonesia. Ketika "security" diserap menjadi "sekuritas" maka pengertiannya adalah surat berharga, dan ketika kita menulis atau menyebut "sekuriti" maka yang dimaksudkan adalah keamanan.

Dalam bahasa Inggris "security" itu adalah surat berharga dan sekaligus juga berarti keamanan, bergantung pada konteks pembicaraan. Mungkin karena itu, orang enggan menyebut "sekuritas" dalam pengertian keamanan. Di mana-mana kalau kita hendak masuk perkantoran besar atau gedung besar, maka di depan gerbang pasti akan tertulis: "Para tamu harap lapor SEKURITI". Tak mungkinlah di situ ditulis "Para tamu harap lapor SEKUTRITAS.

Nah, ini yang bikin saya pusing tadi. Mosok, tamu melaporkan surat berharga (sekuritas) atau para tamu disuruh melaporkan keamanan (sekuriti). Ganjil betul!

Umbu Rey

Kamis, 31 Juli 2008

AC

AC yang saya maksudkan dalam judul di atas adalah singkatan dari kata Inggris AirConditioning. Kadang-kadang orang mengatakan Air Conditioner. Tetapi, dalam bahasa Indonesia, pada umumnya orang menyebut atau menerjemahkannya dengan istilah "pendingin udara", atau yang lain lagi menyebut "pendingin ruangan".

Benda ini pada mulanya hanya berbentuk kotak persegi seperti pesawat televisi yang besarnya bergantung pada kebutuhan atau besar kekuatannya untuk mendinginkan ruangan. Biasa disebut AC Window karena dipasang di jendela kamar. Jika hendak dipasang, dinding kamar harus dijebol dulu dan dibentuk seperti jendela seukuran kota pesawat AC itu. Benda ini ditemukan atau diciptakan oleh seorang Amerika bernama Carrier, tetapi saya lupa nama depannya dan kapan ditemukan.

Pada perkembangannya, pesawat itu mengalami perubahan bentuk juga, dan dibuat dengan "split system". Dalam sistem seperti ini, mesin pesawat AC itu tidak lagi ditempatkan di jendela kamar tetapi ditempatkan di luar gedung atau di luar kamar kita dan hanya embusan anginnya saja yang masuk ke dalam ruangan. Sistem seperti ini banyak digunakan di gedung-gedung tinggi pencakar langit.

Waktu Jepang memperoleh izin untuk memproduksinya, nama AC itu menjadi Toyo Carrier. Maka berkembanglah benda itu dalam berbagai macam bentuk dan sistem dan diproduksi juga oleh banyak perusahaan Jepang seperti Toshiba, LG, National, Mitsubishi dll.

Meskipun begitu, namanya tetap juga disebut "pendingin ruangan" atau "pendingin udara". Kalau kita tilik dari kata per kata secara lempang saja maka Air Conditioning itu mestinya kita sebut "pengatur suhu udara. Sebab "air" adalah udara dan "conditioning" adalah pengatur(an).

AC itu sebenarnya dibuat bukan untuk mendinginkan udara doang, sebab bisa diatur menurut kesukaan kita. Kalau terlampau dingin bisa dikurangi atau disetel sedang-sedang saja menurut keadaan yang kita mau. Lagi pula, di dalam kamar atau di badan pesawat AC itu ada tombol-tombol yang dapat diputar-putar agar embusan angin atau suhu ruangan itu dapat kita atur sesuka kita.

Suhu ruangan dalam kamar diatur dengan embusan zat cair yang disebut "freon" yang terdapat dalam kompresor dalam mesin pesawat AC itu. Di bagian belakangnya ada kipas yang disebut "blower" yang ketika berputar, lalu mendesak freon itu keluar dari kompresor.

Freon itu keluar melalui pipa besar secara berliku-liku dan kemudian masuk ke pipa yang ukurannya sedang lalu masuk lagi ke pipa paling kecil sehingga tiupan anginnya menjadi sangat halus. Karena itulah freon itu menjadi dingin dan menyejukkan ruangan. Mungkin karena itu pula AC lalu disebut "pendingin udara".

Tetapi, kalau kita tidak suka dingin, maka pesawat AC itu bisa kita setel tombolnya supaya freon itu tidak keluar. Jadi kita hanya menikmati alunan angin yang bertiup sepoi-sepoi bahasa saja. Ruangan menjadi sejuk dan kita merasa segar dan nyaman.

Sebetulnya yang saya bicarakan ini semua orang juga sudah tahu, tetapi saya perlu kembali menuliskannya dengan oret-oretan supaya menjadi alasan bahwa AC itu sebenarnya adalah "pengatur suhu ruangan".

Bukankah freon yang keluar bisa di atur-atur, dan dengan begitu keadaan suhu udara dalam ruangan bisa pula diatur-atur? Karena itu lebih masuk akal jika AC itu saya sebut pengatur suhu udara. Menurut KBBI, suhu adalah ukuran kuantitatif terhadap termperatur, panas dan dingin, diukur dengan termometer.

Inilah terjemahan Air Conditioning menurut saya. Terjemahan yang lain mungkin juga benar menurut pemahaman tiap-tiap orang. Tentu saja alasan saya ini subjektif sifatnya, dan karena itu pula istilah pendingin udara atau pendingin ruangan tidak saya salahkan.

Umbu Rey

Rabu, 09 Juli 2008

Bola itu bundar

Bola itu bundar memang begitulah adanya. Itu arti sebenarnya, tetapi di samping itu, frasa ini juga merupakan ibarat atau metafora untuk
menyatakan sesuatu yang tidak pasti atau bisa berubah di luar perhitungan, terutama dalam menebak hasil pertandingan sepak bola.

Hitung-hitungan atau perkiraan orang mengenai negara mana yang bakal menang dalam kejuaraan sepak bola Piala Eropa belum lama ini sering
meleset dan akibatnya uang jutaan rupiah ludes gara-gara kalah taruhan, gara-gara bola itu bundar.

Awalnya dengan hitungan yang cermat setelah melihat komposisi dan kekuatan, ukuran tubuh dan kecerdasan para pemain serta taktik yang
dilakukan pelatihnya, tim "panser" Jerman diunggulkan 90 lawan 10. Hampir semua orang yakin tim itu bakal keluar sebagai juara Eropa tahun 2008.

Hitung-hitungan di atas kertas memang sudah sangat jitu, tetapi itu dia, gara-gara salah tebak maka harapan ingin jadi orang kaya pun lenyap. Bola yang bundar memang susah sekali ditebak ke mana arahnya dia melesat.
Kadang-kadang sudah ditendang ke arah yang pas, tetapi kenyataannya bola itu melenceng jauh sekali ke atas atau ke samping gawang.

Yang paling bikin kesal pendukung satu tim, ketika bola cuma menyentuh tiang gawang, atau ditahan kiper, sehingga gol gagal tercipta. Pendukung tim favorit tentu saja mengeluarkan suara keras karena kesal, "Aduuuuhhh..!" sambil garuk-garuk kepala. Tetapi lawannya justru senang dan gembira ria sebab gol tidak terjadi. Artinya, untuk sementara dia luput dari kekalahan.

Kesebelasan Spanyol sebenarnya tidak diperhitungkan pada awalnya sebab tim ini tidak pernah menang dalam kejuaraan sepak bola Euro sejak tahun 1964. Tetapi, perhitungan para pengamat bola ternyata bisa jungkir balik juga. Meleset juga.

Tim yang mendapat julukan Matador ini ternyata tidak pernah dikalahkan sejak awal sampai final. Tim Jerman ditekuknya di final dengan satu gol tunggal langsung pada babak pertama. Gol tercipta pada babak pertama oleh
Torres pada menit ke-30.

Itu semua gara-gara "bola itu bundar". Susah ditebak. Cuma, kenapa bola itu harus bundar, dan bukan bulat, itu persoalan lain lagi. Biasanya memang begitu orang bicara, tetapi mestinya harus ada alasan.
Karena itu saya bingung ketika teman saya bertanya, "Umbu, apa bedanya bundar dan bulat?"

KBBI menjelaskan bulat itu berbentuk seperti bola, misalnya, bumi itu bulat bentuknya. Bundar berbentuk lingkaran dengan jari-jari yang sama (panjang), misalnya meja bundar. Cuma itu. Arti yang lain adalah ibarat atau kiasan. Misalnya pikiran bulat, tekad bulat.

Yang bundar itu selalu bulat, dan yang bulat itu belum tentu bundar. Telur itu bulat, tidak ada telur yang bundar. Telur ayam dan bebek bulat lonjong bentuknya.

"Topi saya bundar, bundar topi saya. Kalau tidak bundar, bukan topi saya," begitu kata Ibu Guru ketika mengajar kita bernyanyi waktu sekolah dasar kelas satu. Ini stanza kedua dari lagu "burung kakatua hinggap di
jendela".

Wajah manusia ada yang berbentuk bulat oval (bulat lonjong atau bulat telur) dan ada bulat saja, tetapi belum pernah saya mendengar ada orang yang wajahnya bundar. Mungkin cuma Doraemon saja yang wajahnya bundar seperti bola.

Itu saja bedanya. Lalu bedanya yang lain apa, kata teman saya. Terpaksa saya bikin definisi sendiri. Bulat itu selalu kecil, dan bundar itu selalu besar. Buktinya, ada istilah "telan bulat-bulat". Mana ada "telan
bundar-bundar". Kita hanya bisa menelan bulat-bulat karena kecil. Yang besar-besar harus dikunyah atau dimamah dulu baru bisa ditelan.

Ada pula istilah "telanjang bulat", karena begitu pakaian dilepaskan, kelihatanlah benda yang bulat-bulat di tubuh kita. Yang perempuan ada dua yang bulat di bagian atas, dan yang laki-laki ada dua yang bulat di bagian bawahnya. Sebenarnya kelihatannya saja bulat tetapi bundar juga semuanya dan karena itu tidak bisa ditelan. Paling-paling cuma bisa diemut atau dikulum saja.

Bumi itu kecil saja karena itu orang menyebut bumi itu bulat (contoh KBBI). Bulan kelihatannya memang besar tetapi sebenarnya kecil juga, dan karena itu bisa ditelan oleh bumi. Bulan yang usianya baru tiga hari
bentuknya seperti sabit, tidak bulat dan kita sebut bulan sabit. Begitu juga matahari itu bulat bentuknya sebab bisa ditelan bumi. Misalnya, matahari lenyap di ufuk barat karena ditelan bumi.

Bola sepak yang ditendang di lapangan Senayan itu memang kecil jika dibandingkan dengan bumi tetapi sesungguhnya selalu tetap besar dan sebab itu orang menyebut bola itu bundar. Karena bentuknya bundar maka saya yakin sekali wartawan dan karyawan Perum LKBN Antara tidak mungkin bisa menelan bola sepak itu bulat-bulat.

Orang Perum LKBN ANTARA ini saya yakin tidak mau makan bola, tetapi kalau melihat duit maka duit itu selalu saja dilihatnya bulat. Maka dengan sekejap mata uang itu lalu ditelan atau diembatnya bulat-bulat sampai habis tuntas.

Sudah banyak kejadian uang ditelan bulat-bulat. Mulai dari uang koperasi, uang pengobatan dan transport dan terkahir kemarin uang sewa gedung Adhyana di lantai 2 habis pula Rp1 miliar lebih, ditelan bulat-bulat.

Umbu Rey

Selasa, 08 Juli 2008

Mata ke ranjang...SONTOLOYO

Kalau ini sih masalah lama, zadul (zaman dulu) juga. Dalam satu minggu terakhir ini kata SONTOLOYO berkibar dan bertebaran di mana-mana dan tertulis pula di halaman surat kabar dan di dunia maya.

Minggu yang lalu harian Media Indonesia mengangkat judul Menteri Sontoloyo dalam karangan induknya (tajuk rencana). Surat kabar itu menyoroti sifat plin-plan dan mencla-mencle pejabat menteri sampai kepada korupter yang melibatkan anggota parlemen.

Hari Senin lalu (7/7/08), harian Kompas memuat artikel dalam kolom pada halam 6 dengan judul REPUBLIK SONTOLOYO. Penulisnya kelihatan geram sekali melihat kesemrawutan negara yang telah memerosotkan ekonomi setelah harga BBM dinaikkan oleh Presiden SBY. Kira-kira begitulah intinya.

Istilah "mata ke ranjang" memang dimaksudkan untuk menyindir orang laki yang suka main perempuan sebab nggak boleh lihat perempuan cantik lewat, maunya ke ranjang saja dia menyelesaikan hasyarat seksualnya. Dalam diskusi bahasa Indonesia secara terbatas di lantai 19 pada tahun 2002 saya sudah menerangkan arti frasa "mata ke ranjang" itu. Orang mengira bahwa sindirin itu adalah "mata keranjang", seakan-akan mata lelaki menyerupai atau sebesar keranjang lantaran suka menggoda perempuan cantik.

Dulu orang laki yang suka perempuan disebut lelaki hidung belang. Disebut begitu lantaran dia kena hukuman hidungnya dicoret-coret dengan arang dan dipamerkan di halaman rumah supaya terasa malunya dilihat orang ramai. Kalau mata ke uang saya tidak tahu. Yang kita semua tahu, orang yang suka duit itu namanya mata duitan atau matanya ijo.

Kita semua tentu sudah tahu, Bung Karno itu doyan benar sama perempuan. Orang bilang presiden pertama Indonesia ini seks libidonya kelewat tinggi. Zaman dia masih remaja, berani benar pacaran sama perempuan bule, dan ketika masuk internat di Bandung malah indehoi dan kemudian kawin dengan orang perempuan yang usianya dua kali lebih tua dari dia. Namanya Ibu Inggit.

Gara-gara itu perempuan cantik si Inggit, kalau saya tidak salah begitu ceritanya, istrinya yang pertama, anak dari HOS Cokroaminoto di Surabaya dia pulangkan kepada orang tuanya. Ibu Inggit inilah yang mendampingi Bung Karno ke pembuangan di Ende, Pulau Flores NTT pada tahun 1930-1934.

Dari Ende, sinyo peranakan Jawa-Bali ini dibuang pula ke Bengkulu dan tinggal di salah satu ruang di benteng peningalan Inggris. Setelah keluar dari situ, dia mengajar dan muridnya yang perempuan bernama Fatmawati dia kawini pula. Itulah 'first lady" atau ibu negara Indonesia zaman baru merdeka.

Setelah jadi presiden dikawininya pula dua perempuan cantik, satu di antaranya seorang penari. Rupanya belum cukup segitu, waktu dia berkunjung ke Jepang, seorang perempuan cantik muda rupawan menarik perhatiannya. Setelah rombongan kenegaraan tiba kembali di tanah air, eh..., dia kembali sendirian menjemput gadis itu ke Jepang. Kawinlah mereka di masjid di
samping Istana Presiden, dan gadis Jepang itu berubah namanya menjadi Rata
Sari Dewi.

Setelah mendapat gelar kehormatan Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno dinobatkan sebagai kepala negara seumur hidup. Kerjanya pidato melulu, dan konon, setiap kali pidato di atas podium, doyan benar tunjuk sana tunjuk sini. Ajudannya pun mengerti betul arti arah jari telunjuk itu. Kalau dia tunjuk ke kiri maka di situ pastilah ada perempuan cantik, begitu juga kalau dia tunjuk ke kanan.

Alhasil, Anda tahu sendirilah. Istrinya yang sah itu memang cuma empat, tetapi yang lain tidak pernah disebutkan dalam sejarah yang resmi, sebab konon kata orang, ke mana di pergi berkunjung, ke situ pula dia kawin dengan perempuan kesukaannya.

Nah, istilah "mata ke ranjang" itu saya pikir mungkin juga sindiran buat Bung Karno, karena kata orang, Bung Karno itu memang ganteng, dan hiper-seksual pula. Doyan benar sama yang namanya perempuan cantik.

Nah, istilah "SONTOLOYO" itu, mungkin sekali ada hubungannya juga dengan doyan perempuan itu. Jika ditinjau dari akar katanya, "sontoloyo" terdiri atas kata "sontol" dan "loyo". Agaknya memang, huruf "s" padaa kata "sontol" itu adalah pelesetan huruf "k" untuk tidak terus terang menyebut kemaluan lelaki yang loyo. Dua kata itu pun penulisannya diserangkaikan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga telah mencatat kata "sontoloyo" dan diberi arti konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sbg kata makian). Istilah ini pun tidak resmi, hanya bahasa percakapan dan diberi simbol "cak".

Orang mengira kata "sontoloyo" itu diucapkan Bung Karno baru pada tahun 1960-an, tetapi sebenarnya sudah populer sejak tahun 1930 atau mungkin sebelumnya ketika Bung Karno masih remaja. Kuat dugaan saya, sontoloyo itu adalah kata ejek-ejekan atau olok-olokan di kalangan anak remaja ketika itu, dan mungkin sekali keluar lebih dulu dari mulut Bung Karno muda.

SONTOLOYO makin populer ketika Bung Karno menulis dalam surat chabar Pandji Islam dalam tahun 1940. Di dalam buku "Dibawah Bendera Revolusi" halaman 493 Bung Karno menulis artikel di bawah judul ISLAM SONTOLOJO dan kata itu pun harus dibaca: Soontooloojoo.

Artikel itu adalah penjelasan Bung Karno yang menanggapi berita di dalam surat chabar Pemandangan 8 April 1940 yang memberitakan "seorang guru agama didjebloskan ke dalam bui tahanan karena ia telah memperkosa kehormatannya salah seorang muridnja jang masih ketjil".

Umbu Rey